Lari dari Kejaran Mantan
Hari itu, tanggal 6 November 2022 adalah hari perlombaan lari estafet temanku, Annisa. Tepat dua hari setelah aku pulang dari Jogja. Temanku ini tenaganya tidak ada habisnya.
Hari itu, aku tidak bisa datang saat perlomabaan seleksinya, tetapi Alhamdulillah Annisa dan kawan setimnya lolos dan masuk final. Aku turut senang saat menerima kabar itu. Final akan dilaksanakan di hari yang sama pukul 3 sore. Sore itu aku bisa. Akhirnya, aku bersama Abidah, Arif, dan Dinar janjian untuk berangkat bersama ke Lapangan Thor Surabaya, tempat lomba itu dilaksanakan.
Dinar dan Arif si helm panasonic dan helm hijau
Saat itu, Dinar menggonceng Arif dan aku digonceng Abidah. Bersama kami menyusuri jalan menuju lokasi dengan Dinar dan Arif sebagai pemimpin jalan. Tetapi, saat di pertengahan jalan, kedua anak itu terlalu ngebut mengendarai motor dan kondisi jalanan yang agak macet membuat aku dan Abidah akhirnya tertinggal di belakang. Karena tak tahu menahu mengenai jalan menuju lokasi, akhirnya kami membuka aplikasi G-maps sebagai penunjuk arah dan menelepon Arif agar tidak terpisah saat sampai.
Singkat cerita, kami berdua telah tiba di lokasi dan menonton pertandingan dengan tenang. Sebenarnya, aku dan Abidah bisa dibilang telat datang karena ketika kami datang, pertandingan sudah dimulai. Jadi, mau tidak mau akhirnya kami menonton sisa pertandingan yang ada.
Pertandingan selesai, temanku Annisa dan rekan setimnya sayangnya harus gugur. Mereka tidak mencapai juara 1, 2, atau 3. Tapi, sebagai temannya aku turut bangga akan keberhasilannya. Air mata keluar dari matanya. Aku hanya bisa memeluk dan menepuk punggungnya, berusaha menenangkannya.
Annisa berhasil tenang berkat gurauan kami berempat di sana. Kami mengucapkan bahwa hasil yang ia peroleh sudah baik. Tidak perlu disesali lagi. Itu bukan sesuatu yang bisa didapat dengan mudah. Temanku ini memang keren. (aku takut kepalanya membesar ketika ia membaca ini)


Kali-kali membesarkan kepala teman itu baik kok. Wong gak setiap hari aja kok
BalasHapus