Latihan Jumat
Sore hari ini, sekitar pukul 4 sore. Aku, Novi, dan Lisa sampai pada tempat rutinitas kami hari Minggu, bedanya hari ini adalah Jumat. Kami bertiga berlatih biola bersama di salah satu tempat latian bernama POSS. Sebelum memulai latihan, kami membeli pentol yang ada di sekitaran untuk mengisi tenaga kami. Sebenarnya, kami bertiga sudah lama menginginkan pentol saat latian pada hari Minggu biasanya, tetapi selalu tidak terwujud karena pedagang pentolnya hilang entah ke mana. Padahal, kami sudah menanti-nanti.
Setelah menghabiskan pentol kami, kami memulai latihan memainkan lagu Naik Delman dan Padhang Bulan. Mungkin, menurut kalian ini adalah lagu yang terlihat biasa saja, tapi bagi kami, lagu ini lumayan sulit. Dengan tempo yang cepat, melakukan itu tidak bisa dibilang mudah. Tapi, kami bertiga akan berusaha semaksimal kami.
Aku, Novi, dan Lisa mengenakan jas hujan
Singkat cerita, latihan kami selesai. Waktu sudah mulai memasuki waktu Maghrib dan suasana di luar sedikit gerimis. Kami memutuskan untuk memakai jas hujan saja. Selain untuk melindungi kami, hal ini juga bertujuan untuk melindungi biola kami. Bagaimanapun biola kami itu berharga.
Perjalanan pulang bisa dibilang cukup lancar, selain macet. Menurutku wajar, waktu itu adalah waktu pulang kerja. Jadi bukan suatu hal yang aneh saat terjadi kemacetan. Untungnya Lisa berinisiatif mengambil jalan lain untuk menghindari macet di daerah Simo. Walaupun, jalannya sedikit memutar, tetapi aku rasa lebih baik daripada terjebak macet.
Lampu merah mati
Saat perjalanan pulang dan aku berhenti karena lampu merah, aku gagal fokus dengan lampu merah yang padam. Padahal saat lampu berwarna hijau tadi masih menyala, kenapa saat berwarna merah lampu itu mati? Untung saja ada lampu lain (lampu lalu lintas berwarna merah yang ada di depan sana) yang menjadi penanda kami, para pengendara apakah sudah boleh jalan atau belum.
Singkat cerita, lampu berubah menjadi hijau. Lampu merah yang tadi mati, kembali menyala ketika lampu berubah hijau. Aku terkekeh. Bisa-bisanya hanya lampu merahnya yang mati. Aku baru pertama kali melihat ini. Sungguh momen yang langka.
Saat di tengah perjalanan tadi, aku terpisah dengan Novi dan Lisa. Ini sudah biasa bagi kami. Ramainya jalanan membuat kami berpisah. Tapi tak mengapa, aku sudah tau arah jalan pulang, jadi aku tidak takut tersesat apabila terpisah dengan mereka. Aku lalu meneruskan perjalananku menuju rumah karena sudah rindu dengan kasurku.




Komentar
Posting Komentar