My Tiny Friend


Berbicara tentang seorang teman, aku mempunyai seorang teman dekat. Namanya Adinda Fadhilah Alibasyah. Nama panggilannya sih Dhilah, tapi karena seorang temanku dari kelas 8 memanggilnya monyong/nyong, aku, lebih tepatnya teman sekelasku waktu kelas 8 jadi memanggilnya begitu. Sebenarnya, dia tidak monyong, entahlah kenapa dipanggil begitu. Hehe.

Pertemuan awal kami adalah ketika salah satu temanku membawanya dan memperkenalkannya kepadaku dan teman-teman yang lain saat berada pada bangku kelas 7. Kesan pertamaku terhadapnya sebenarnya tak begitu banyak, kami juga tidak berbicara banyak.

Pertemuan keduaku adalah ketika aku bergabung dengan tim samroh SMP ku saat awal kenaikan kelas 8. Di sana aku bertemu dengannya yang sedang memainkan sebuah piano. Pertemuan kami di sana terasa canggung. Aku tidak menyangka bahwa anak itu akan berada di sana.

Saat pembagian kelas 8, ternyata kita sekelas. Dengan keadaan yang belum sepenuhnya akrab, aku bersorak senang dengannya saat mengetahui bahwa kami sekelas. Jujur, kalau diingat-ingat lagi, itu adalah suatu hal yang aneh. Kami bersorak senang seolah kami sudah berteman begitu lama, seolah kami sudah mengenal baik satu sama lain. Padahal, kami baru bertemu beberapa kali dan sama sekali belum akrab. Setelah sorakan senang tadi, kami berdua kembali canggung. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kami berdua belum seakrab itu. 

Pap random darinya saat akan berangkat sekolah

Kehidupan tak selamanya akan SMP terus, pasti akan naik ke jenjang berikutnya. Aku dan dia berpisah sekolah. Dia masuk SMAN 9 Surabaya, sedangkan aku SMAN 11 Surabaya. Jauh sekali. Bedanya sekolah kami tidak membuat komunikasi kami terhenti. Kami masih sering saling mengabari dan menceritakan keseharian kami. Mungkin, karena itu kami berdua masih jomblo :'))

Kalau harus menceritakan Dhilah itu bagaimana, mungkin aku akan menjawab bahwa ia adalah seorang yang sangat ceria, pintar, dan pandai bersosialisasi. Ia juga benar-benar cerewet. Ada saja yang dia ucapkan. Dia juga anak yang aktif, tidak bisa diam. Lalu, dia mempunyai dua ekor kucing, awalnya, tapi yang satu hilang. Semangat Dhilah.

Kami berdua selalu berbagi keseharian kami di room chat. Dengan sekolah yang berbeda, membuat kami jarang bisa berkumpul. Tapi, hal ini tidak membuat kami berhenti mengabari satu sama lain. Terkadang, ia akan bercerita mengenai kehidupan sekolahnya, teman-temannya, guru di sekolahnya, bahkan tugasnya, aku pun juga begitu. Aku jadi tahu beberapa teman sekelasnya padahal kami belum pernah bertemu. Teman-teman sekolahku juga jadi tahu mengenai dirinya karena sering melihat aku bertukar pesan dengannya.

Bukan hanya keseharian remeh yang biasa kami ceritakan. Tentang kisah pertemanan, masalah, bahkan masa depan juga sering kami perbincangkan. Terkadang kami juga sering membahas hal-hal berat. Kalau zaman sekarang sih bilangnya deep talk. Cukup menyenangkan berbincang dengannya walaupun hanya lewat pesan saja. 

Aku juga kerap kali menanyakan beberapa solusi untuk masalahku kepadanya. Jika aku merasa tak tenang akan sesuatu, aku juga menceritakan hal itu kepadanya. Dia selalu bisa memberikan kata-kata penenang. Bahkan, pernah sekali aku tidak bisa menceritakan masalahku, ia tak merasa keberatan akan hal itu. Dia justru memberikan kata-kata yang membuatku tenang.  

"Tiap orang itu beda-beda caranya untuk menenangkan diri, tapi semua itu pasti bakal dilupain kalau sudah lama berlalu. Jadi, kalau baru dapat masalah, kepikiran itu hal yang wajar banget. Tapi, jangan terlalu dibawa bingung karena takutnya jadi kurang fokus kalau mau ngelakuin sesuatu."

Setelah membaca beberapa kata dalam bubble chat itu, aku seperti dipeluk seseoang sembari ditenangkan. Aku merasa baik-baik saja setelahnya walaupun akhirnya aku tidak jadi menceritakan masalahku. Entah mengapa, walaupun tidak tahu ceritaku, tapi kata-katanya benar-benar sesuai untukku kala itu. Sungguh kebetulan yang mengagumkan. 

Pap random darinya karena mengantuk

Bukan kisah keseharian saja yang biasa kami ceritakan, tetapi juga hal-hal seperti makanan, film, novel, komik, dan lain sebagainya. Terkadang, kami juga sering mengirim video random di sosmed dan saling mengomentari mengenai video itu. Dia juga sering mengirimkan foto/video dari kucingnya (ini karena aku tidak punya kucing juga).

Berteman dengan manusia ini merupakan suatu keajaiban. Padahal pertemuan awal kami canggung begitu. Siapa yang menyangka kalau manusia ini akan berteman dekat denganku? 

Oh iya, foto kami berdua sedikit. Jadi, tak bisa kumasukkan banyak. Hehe.

Tidak terasa sudah sebanyak ini, aku seperti menceritakan pacarku saja... Tapi, tenang saja. Kami berdua masih normal. Bahkan, temanku ini sedang dekat dengan seorang lelaki di sekolahnya. Aku tak sabar mendengar kelanjutan hubungan mereka, hihi.

Aku rasa cukup sekian saja cerita tentangnya, terima kasih sudah membaca sampai akhir. Dadah!



 

Komentar

Postingan Populer